DESA GAIB

 

(illustrasi by Pexels/Pixabay)

Toni merupakan seorang pemuda berumur 25 tahun. Ia memiliki hobi melakukan perjalanan sendiri atau solo touring ke daerah-daerah pedalaman. Bukan tanpa alasan, kenapa ia menyukai solo touring ketimbang touring secara berkelompok. Menurutnya, karena lebih bebas dalam menentukan tujuan perjalanan, durasi yang bisa sesuka hati, dan tidak berbenturan dengan kepentingan orang lain. Solo touring biasa dilakukannya ketika sedang libur dari pekerjaan. Toni juga merupakan seorang jomblo, yang sementara waktu memilih untuk tidak memiliki pasangan, karena memiliki seorang pasangan baginya hanya menambah masalah saja, terlebih lagi saat ini ia belum mempunyai karir yang baik sehingga, jika memiliki pasangan kehidupannya terasa menjadi rumit.

Suatu hari, toni membuat rencana untuk mengunjungi sebuah pantai yang berada di wilayah cianjur selatan. Ia mendapatkan informasi mengenai pantai tersebut dari sebuah situs di internet. Ia selalu merasa penasaran mengenai tempat-tempat yang belum pernah dikunjunginya, apalagi jika tempat tersebut bernuansa alam. Seperti biasa sebelum ia memutuskan melakukan perjalanan, ia terlebih dahulu melihat jarak dan waktu tempuh untuk mencapai suatu tempat melalui Google Maps.

Toni melakukan solo touring hari sabtu ketika libur dari pekerjaan, ia berangkat pagi jam 7an menggunakan motor kesayangannya, karena untuk menuju pantai cianjur selatan membutuhkan waktu perjalanan sekitar 6 jam-an dari rumahnya. Sepanjang perjalanan banyak melewati wilayah perhutanan. Wilayah hutan-hutan yang ia lalui menjadi sebuah tantangan dan keseruan tersediri. Walaupun perjalanan yang ditempuh jauh, toni termasuk orang yang cukup kuat untuk tidak beristirahat sekalipun. Harapannya agar dapat sampai ke tempat tujuan dengan lebih cepat dari waktu yang sudah di perkiraan.

Jam menunjukkan pukul 3 sore namun, ia belum juga sampai ke tempat tujuan. Ia mencoba bertanya kepada warga sekitar untuk menanyakan seberapa jauh dan berapa lama untuk sampai ke pantai selatan cianjur, warga menjawab bahwa sekitar 3 jam an dari tempat ia bertanya sampai ke pantai selatan cianjur. Keragu-raguan membuat toni menjadi dilema, antara perjalanan dilanjutkan atau putar balik, karena hari sudah semakin sore. Daripada ke malaman dijalan, akhirnya ia memilih putar balik untuk pulang.

Hari sudah berubah menjadi gelap sedangkan, toni masih dalam perjalanan pulang. Sialnya motor yang dikendarainya mogok kehabisan bensin. Ia membuka handphone untuk melihat google maps, betapa terkejutnya ternyata, ia berada ditengah-tengah kawasan perhutanan  jauh dari pemukiman penduduk dan dijalan ia tidak melihat kendaraan lain yang melintas. Dengan sangat terpaksa, akhirnya ia mendorong motornya untuk keluar dari kawasan hutan dan sambil mencari tukang penjual bensin botolan.

Ketika sedang mendorong motornya, ia bertemu seorang perempuan cantik berpakaian jadul agak lusuh keluar dari sebuah perkebunan, membawa wadah berisikan beberapa jenis sayuran. Perempuan tersebut bertanya pada toni,

“Kenapa motornya didorong A?” tanya si perempuan.

“Ini teh bensinnya habis, jadi terpaksa saya dorong deh..” jawab toni. “Kira-kira disini tukang bensin dimana ya teh?” lanjut toni.

“Disini mah tidak ada penjual bensin a, paling ada jauh dikota” jawab si perempuan. “Mampir dulu atuh kerumah saya a, istirahat dulu sebentar, itu rumah saya deket kok (sambil menunjuk)” lanjut si perempuan.

Toni menoleh kearah yang ditunjukan oleh perempuan tersebut, terlihat ada dua sampai tiga rumah panggung saja. Toni mengiyakan ajakannya dan berkenalan satu sama lain. Diketahui perempuan tersebut mengaku bernama Ayunda. Toni dipersilahkan masuk ke rumahnya, ia tidak melihat siapapun selain dirinya dan ayunda. Ayunda menyuguhkan air minum dan makanan. Minuman yang disuguhkan terasa asing di lidah toni, seperti air yang sudah disimpan sangat lama dan gelasnya terlihat sedikit berlumut, ia juga tidak merasakan rasa apapun dari makanan yang disuguhkan.

Disela-sela santapan makanan, datanglah ayah ayunda dengan seekor kuda yang menjadi tumpangannya, berpakaian jadul agak lusuh sama seperti pakaian yang dikenakan anaknya (Ayunda). Melihat keberadaan toni dirumah, ia menanyakan siapa toni pada ayunda. Ayunda menjelaskan singkat, dan kemudian ia mencoba mengajak toni mengobrol,

“Hei anak muda, kenapa kamu bisa berada disini?” tanya ayah ayunda pada toni.

“Motor saya mogok kehabisan bensin pak, terus dijalan tadi ketemu ayunda, dan mampirlah saya kesini” jawab toni.

“Bensin? Apa itu bensin? Saya baru dengar itu.” jawab ayah ayunda.

Toni merasa heran ternyata ayah ayunda samasekali tidak mengetahui bensin itu apa. Dijelaskan pun tetap tidak mengerti. Setelah sekiranya santapan makan selesai, ayunda mengajak toni ke teras rumah. Mereka berdua berbincang, toni memperhatikan wajah ayunda yang begitu cantik membuatnya terpana.

“Kamu harus segera pergi dari sini secepatnya” ujar ayunda sambil sedih.

“Kenapa? Ada apa? Memangnya kenapa jika aku berada disini?” jawab toni. “Aku menyukaimu ayunda” lanjut toni.

 “Pokoknya kamu harus pergi dari sini secepatnya, bahaya akan datang kepadamu jika kamu masih tetap berada disini” jawab ayunda dengan nada sedih.

“Baiklah aku akan pulang, tapi suatu hari, aku akan kembali kesini” jawab toni. Ayunda tidak menjawab, ia hanya menangis yang entah kenapa. Akhirnya toni meninggalkan ayunda diiringi pikiran keheranan.

Malam itu toni terpaksa harus pulang karena ayunda tiba-tiba bersikap aneh dan menyuruhnya pergi. Ia kembali mendorong motornya, sambil mencari tempat penjual bensin yang sekiranya masih buka. Tak lama kemudian, ia menemukan penjual bensin botolan. Ia bercerita kepada penjual bensin bahwa dirinya sudah mendorong motor lumayan cukup jauh dan ia bertemu seorang perempuan di sebuah desa.

“Apa nama desanya? Perasaan di wilayah sana tidak ada desa satupun, disana cuma hutan-hutan biasa” kata si penjual bensin.

“Masa iya sih tidak ada desa pak, tadi saya betul-betul ada didesa tersebut” jawab toni.

“Kalau kamu tidak percaya, coba kamu kembali ketempat itu di siang hari, disana kamu tidak akan menemukan desa yang kamu maksud” jawab si penjual bensin.

Toni antara percaya dan tidak terhadap perkataan si penjual bensin. Jika memang perkataan si penjual bensin itu benar, lantas siapa Ayunda? perempuan yang membuatnya jatuh hati tersebut. Seminggu berlalu, toni mencoba melakukan pembuktian mengenai perkataan si penjual bensin.  Ia berniat untuk pergi ke desa tempat Ayunda berada. Benar saja, ia tidak menemukan desa tempat ayunda tinggal, disana hanya terdapat hutan di kanan kiri jalan, tidak satupun rumah penduduk.

“Pantesan, waktu itu ayunda menyuruhku untuk segera pergi meninggalkannya, oh jadi ini alasannya, ayunda bukanlah manusia” ucapnya dalam hati. Ia kembali menemui si penjual bensin dan menceritakan semua kebenaran tentang desa yang dimaksud.

“Iya bener kan? tidak ada desa disana” ucap si penjual bensin.

Si penjual bensin menceritakan asal usul wilayah yang dimaksud pada toni. Zaman penjajahan dulu, ada seorang gadis dan ayahnya dibunuh oleh tentara belanda sepulang mengurus, lahan perkebunan miliknya. Jadi, si gadis pulang lebih dulu kerumah sendirian daripada ayahnya, ketika dijalan menuju kerumah, lewatlah tentara belanda yang sedang ber patroli ke desa-desa. Melihat gadis cantik berjalan pulang seorang diri, tentara belanda mengikutinya secara diam-diam tanpa disadari si gadis.

Dirasa keadaan sepi, tentara belanda memaksa masuk ke rumah untuk berbuat tindakan asusila, dan kemudian si gadis berteriak, teriakan tersebut terdengar oleh ayahnya, karena keberadaan kebun tidak jauh dari rumah. Sontak, ayahnya buru-buru pulang untuk memastikan keadaan si gadis baik-baik saja, kepulangan ayahnya diketahui oleh tentara belanda yang sedang mencabuli si gadis. Ayahnya ditembak dibagian kepala oleh tentara belanda ketika baru akan memasuki pintu rumah, melihat ayahnya dibunuh, si gadis berteriak histeris. Sehingga, lantaran aksinya takut ketahuan orang lain, tentara belanda pun membunuh keduanya.

Setelah mendengar cerita tersebut, wajah toni terlihat memerah. Sebab, ayunda dikenalnya sebagai seorang perempuan yang selain cantik nan ayu, ia juga lemah lembut tutur katanya, itulah yang membuat toni jatuh hati pada ayunda. Kemanapun ia mencari, tetap tidak akan menemukanlagi keberadaan ayunda. Lantaran, sosok Ayunda yang pernah ditemuinya,adalah perempuan korban pembunuhan.

Selesai! 

Hasanudin

Writer, Conten Creator

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama